Rabu, 25 Januari 2017

Long Journey to be found you..

Aku telah melalui 3 kali proses dengan mereka yang awalnya memberi harapan..namun ternyata memang hanya sekedar harapan yang menguji sebuah proses ketawakalan atas ikhtiar mencari sahabat setia dalam mendampingi hidup. Menggenapkan separuh din dan meluruskan tulang rusuk yang bengkok ini. Namun semua itu untuk meluruskan niat karna-Nya.
Dengan yang pertama..Agustus 2011 tepatnya. Saat usiaku 22 tahun..yang tak pernah terpikirkan dalam hidupku untuk memikirkan pernikahan..aku mengenal yang namanya proses ta'aruf. Aku mendapatkan CV dari sahabatku. Dan ternyata ia adalah orang yg sangat aku kenal dengan baik dan dekat sekali denganku. Kegalauan yang tiada pernah terjadi hingga akhirnya aku menyatakan yakin untuk melanjutkannya. Tapi, hanya sampai tahap murobbi dan pada akhirnya aku memaksakan untuk tidak yakin hingga Allah sesuai dengan prasangkaku..kami tidak berjodoh..2 bulan proses...1 bln kemudian cancel, karena sang ibu yang sedang sakit parah itu belum merstui anaknya menikah. Proses mengelola hati yang terlanjur menerima dan yakin disertai rasa saling mencintai itu harus ku kubur , karena telah membuat separuh hidupku bagaikan tak ingin bergerak lagi menjalani kehidupan. Sempat terperangkap perasaan yang syaithan trs bisikkan di hati dan pikiran untuk menerima menunggunya hingga bbrp bulan tahun depan. Tapi aku menolak, karena aku takut ikatan menunggu itu hanya membuat kami lalai dan memperkeruh hati. Alhamdulillaah, pada akhirnya aku bisa bangkit dari kekecewaan dan keterpurukan ini perlahan demi perlahan..mencoba pasrah dan tawakal..memperbaiki diri dan kembali fokus dengan amanahku ditingkat kampus saat itu. Hingga akhirnya ia memilih menerima tawaran orang lain yang sekarang telah menjadi jodohnya. Aku tak kaget...karana aku telah mengkondisikan diriku selama 7 bulan setelahnya untuk menerima takdir apapun kedepannya. Aku dan sahabat lainnyapun membantu mempersiapkan pernikahannya. Walau jadi sedikit canggung, ia tetaplah saudaraku seiman dan sahabat kami, dan aku bahagia melihatnya bahagia. Ingatlah mencintai dan membenci karena Allah takkan membuatmu kecewa, dan aku percaya itu. Kamipun masih bersahabat hingga detik ini, masalalu itu biarlah menjadi hikmah dan sejarah untuk kami. Tak perlu diungkit , cukup dengan menjalani persahabatan karna Allah.
Yang keduapun datang. Saat itu usiaku 23 tahun dan ia 9 tahun lbih tua diatasku. Kami kenal di medsos sebagai teman diskusi 2 bulan sebelum yang pertama itu melangsungkan pernikahan, disaat hati ini berusaha mengumpulkan lagi kepingannya utk disusun kembali. Ternyata yang kedua ini benar2 mengajakku utk serius. Hingga akupun istikhoroh dan meyakinkan diri untuk mencoba berta'aruf dengannya 2 bulan setelah pernikahan orang pertama. Tahap dari Murobbi ke murobbi dan ta'aruf personalpun lancar. Hingga sampai tahap ia bertemu dengan orangtuaku dan aku bertemu dengan keluarganyapun lancar.Tinggal pertemuan keluarga untuk menentukan waktu untuk lamaran dan pernikahan. Namun tiba2 ia menghilang tak berkabar hampir 2 bulan lebih. Aku bagaikan sarang burung yang tergantung diantara pepohonan. Sungguh perasaan seperti dipermaikan itu akhirnya muncul dan membuatku tak bisa tenang. Padahal aku telah yakin dan menerima apapun kekurangan & kelebihan yg ada padanya. Setelah pas 3 bulan. Aku memutuskan cancel karena tak ada kejelasan apapun darinya untuk melnjutkan atau tidak.
November 2013 pun berakhir. Sungguh kecewa aku terhadap semua laki2. Pandanganku mulai cuek dengan kata ta'aruf dan cenderung menjauhi dan menganggap semua laki2 sama. Dan tak ada yang bisa dipercaya kata-katanya. Hingga aku memutuskan untuk membahagiakan diri dengan melakukan yang aku suka, hobby yang sejak lama tertunda, yaitu naik gunung. bercengkrama dengan alam..bersama mereka yang tak perlu membawa kesedihan,menikmati Alam ciptaan Tuhan yang tiada habis keindahanNya dengan jutaan pujian sekalipun. Melupakan ujian yang menyedihkan dan menciptakan kekuatan utk selalu bangkit dan siap dengan Ujian selanjutnya.
2014 hingga pertengahan 2015 benar2 kunikmati hobbyku. Mengenal banyak orang yang baru dan ku banyak mengambil pelajaran dari mereka. MasyaAllah nikmat mana yang kau dustakan. Walau diantara selipan hari ada saja laki2 menyapa dan berniat serius. Tak hanya satu atau dua tapi beberapa..semua tak ada yang ku gubris...dan tak perlu ku jauhi karena tak ada untungnya juga buatku. Merusak pertemanan hanya karna jatuh hati. Biarlah mereka paham bagaimana mengelola hati..dan berhadapan dengan orang sepertiku. Jika memang serius silahkan penuhi kriteria pendamping yang kuinginkan..lalu temui orangtuaku dan bawa orangtuamu melamar kerumah. See...tantangan itu bisa membuatku sedikit aman dari laki2 yang hanya takjub dengan keindahan wanita dan rasa ingin memiliki saja. Sekalipun ada yang menyanggupi..sungguh tak bisa dipercaya perilakunya. Jikalah pertemanan dan cara berkomunikasiku membuat nyaman laki2. Itu urusan mereka..inilah aku apa adanya..dengan gayaku, tingkahku dan caraku menanggapi kalian wahai kaum adam. Yang memang tanpa sengaja ada pd diriku. Cuek dan santai. Pun tak selalu kalian nyaman juga untukku..jikalah memang saling nyaman, itu karena kebutuhan antara laki2 dan wanita dlm berkawan. Tidak lebih dan jangan baperan. Satu sisi, hobbiku dinilai pelarian kegagalan...yah bisa jadi, terserah orang mau berpendapat apa. Yang penting ga ngerugiin orang dan ga keluar dari koridorNya. Orangtuapun selalu menagihku untuk segera menikah ..karena tanpa sadar usiaku sudah menginjak 26 tahun di 2015 ini. Ditambah kekecewaan padaku yang 2x gagal menikah. Hingga adik bungsuku yg berniat menikahpun blm diizinkan karena kakak wanitanya belum menikah.
Hingga pertengahan tahun 2016 dibulan mei tepatnya. saat usiaku 27 tahun..murobbi memintaku untuk bertukar cv dengan ikhwan yang akan dijodohkan denganku. Aku sempat ragu untuk kembali kenal dengan yg namanya ta'aruf karena takut dikecewakan lagi. Namun aku kembali diyakinkan oleh Allah untuk mencobanya. Kuberikanlah CV ku. Sempat menunggu 2 minggu untuk tau siapa yang dijodohkan.memasuki awal juni Masuklah CV seorang ikhwan yang selama ini dekat, sering berkomunikasi dan menjalani aktifitas bersama denganku yang tak pernah kuduga dalam benakku sedikitpun. Langsung teringat peristiwaku dengan ta'aruf yang pertama..akupun ragu dan sangat takut. Aku berusaha menolak..namun, Allah mengarahkan hatiku untuk melanjutkan untuk berta'aruf dengannya. Sayang saat itu ikhwan itu sdg terkena musibah sakit yang cukup lama. Hingga proses ta'aruf inipun terpending 2 bln lamanya. Hingga sakitnyapun mulai membaik walaupun blm sembuh total..menjelang akhir agustus kami melanjutkan proses ta'aruf ini. Proses ta'aruf via murobbi untuk personal dan saling berkunjung utk berkenalan dengan orang tua secara personalpun lancar. Hingga akhirnya orangtuanyapun silaturahim kerumah untuk bertemu keluargaku. Aku sudah penuh keyakinan dan harapan yang begitu berbunga2. Begitu juga dengan orangtuaku..mereka terlihat bahagia sekali. Walaupun satu sisi aku juga sudah siap jika memang tidak berjodoh. Namun, yang kuharapkan akan ada waktu penentuan lamaran dan pernikahan..lagi2 hanya mimpi. Orangtuanya datang dan menyatakan didepan orangtuaku untuk menunggu sampai kaka pertama si ikhwan menikah. Bahkan kaka pertamanya tanpa malu memperlihatkan keinginanan pernikahannya yang mewah didepan keluargaku. Harapanku kembali hening..kecewa bercampur bingung, sedih dan malu. Terutama pada keluargaku. Sungguh bukan itu yang kuharapkan dari pertemuan keluarga. Kata menunggu yang tak pernah ada kepastian jika tidak dipastikan. Akhirnya akupun memberikan waktu 1 bulan untuk mengkondisikan kepastian lamaran dari keluarganya kepadaku. Namun, lagi-lagi kecewa yang kudapatkan. Orangtuanya tak bisa memberi kepastian kapan mau melamarku, karena kakanya belum juga menemukan jodohnya dalam 1 bulan itu. Tepat di awal Desember kamipun mengakhiri proses ini. Desemberkupun kembali penuh awan kelabu.
1 tahun berlalu tak ada tanda2 ia akan kembali.Entahlah...2017 ini usiaku akan menginjak 28 tahun. Aku sudah tak ingin fokus kesana..orangtuaku memang masih berharap diantara ke 2 dan ke 3 adalah jodohku. Tapi, apa yang bs kulakukan. Rasanya tak mungkin kubertanya kepada mereka masihkah berniat menikah denganku. Terlalu sulit.....Aku hanya bisa berdoa agar diberikan pendamping yang terbaik untuk menjadi imamku dan keluargaku, terbaik untuk agamaku, terbaik untuk da'wah dan tarbiyahku. walaupun keinginan memiliki pendamping hidup itu kuat. Aku hanya bisa berdoa semampuku. Mungkin ke 3 orang itu memang bukan yang terbaik untukku. Atau tepatnya..aku bukanlah wanita yang terbaik untuk mereka. Hingga Akhirnya awal 2017 ini...adik bungsukulah yang usianya baru 23 tahun yang memang Allah telah dekatkan jodohnya..bukan aku. InsyaAllah ia akan menikah dengan wanita yg tlh dijodohkan dengannya oleh murobbinya..dan akan menikah di akhir januari ini. Semoga Allah mudahkan dan lancarkan. Aamiin Biarlah orang berkata apa. Yang penting aku turut berbahagia. Jodoh Allah yang siapkan & tentukan sesuai kebutuhan hamba2nya dengan orang yang tepat dan waktu yang tepat.☺ Sekian. Jakarta, 25 Januari 2017.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Dirmu Bukan Orang Lain..

Terkadang kita harus tertawa sendiri melihat skenarioNya..
Kadang kita harus bersedih sendiri ketika yang diharapkan sedang tak sejalan dgn skenarioNya.
Bahkan pasrah ketika arah sudah tak tertentu dan berharap yang terbaik atas skenarioNya.

Padahal, kita hidup untuk menyaksikan dan menyiapkan bekal dikehidupan selanjutnya.
Namun, dunia begitu menggoda utk menyaksikan hidup orang lain yang Indah dihadapan kita.
Sehingga, membuat kita ingin seperti hidup orang lain.
Walaupun merasakan keindahan hidup orang lain terkadang juga membuat kita bahagia.
Tapi, kenyataannya adalah hidup kita untuk kita sendiri walaupun harus berbagi didalamnya...
Kita sering mendengar jadilah diri sendiri. Hei...! Bahkan kita saja masih harus mendidik diri menjadi baik hingga ajal menjelang, karna kita tidak bisa sesempurna Nabiullaah...
lalu, jadi diri sendiri yang seperti apakah yang ingin kau tanam dalam hidupmu sebagai bekal kehidupan?
Ah tidak....kurasa bukan hanya itu....!
Hidup kita pun bergantung pada tujuan hidup kita.
Jika tujuan kita bahagia dunia & akhirat dengan beribadah kepadaNya, maka kehidupan itu akan kita jalani dengan penuh perjuangan bagaimana cara mendapatkannya sbg bentuk ibadah. Tanpa harus melihat orang lain.
Karna ibadah kita tidak untuk orang lain bukan?
Maka kita akan menyaksikan bahwa dunia ini indah untuk berbekal di akhirat jika kau menikmatinya,
bersabar & bersyukur didalamnya dan mencegah kecewa utk mendapat keikhlasan atas smua skenarioNya,
juga berpasrah diri untuk mendapatkan RidhoNya.

Kadang, kita terlalu cepat mengunggah benci ketika terlalu sering kecewa.
Kita terlalu cepat merasa suka ketika terlalu membuatku nyaman.
Benar ..jika antara benci dan suka itu tipis, karna keduanya menyelimuti hatimu selalu...sehingga kita akan terus dihadapakan pada kenyamanan dan kekecewaan.
Kita selalu berusaha memaafkan dan berjuang melawan apa yang tak Seharusnya mengganggu pikiran dan hati kita.
Namun, kita terlalu lemah jika nyatanya kita bercermin. Dan merasa kuat jika bercermin pd yang lain.
Kadang, kenyamanan dan kekecewaan hanyalah pilihan yang cenderung membuatmu stag dan tak mampu lagi melaju.
Tapi, aku lupa...harusnya aku lakukan semua karna Allah..mencintai dan membenci karna Allah.
Hingga kau akan trs nyaman walau harus kecewa..karna yang kau lakukan adalah Lillah..
Hingga suatu saat cinta dariNyalah yang kau dapat.
Indahnya jika Malaikat dan penduduk langitpun turut mencintaimu bukan?
Maka, kejarlah terus cintaNya, agar yang kau rasa adalah kenyamanan karna RahmatNya dan RidhoNya.
Karena kesempatan dalam hidupmu terlalu sedikit dibandingkan kelalaian yang terus mengiringi perjalanan untuk berbekal di akhir kematian nanti. wallohu'alam bisshowwab...

Bisakah kembali??

Guratan kecewa itu kembali tergores bahkan sakitnya tak kunjung hilang..
bagaimana aku bisa bertahan jika pada akhirnya kau menjadi tak lbh baik?
Haruskah rasa bersalah ini trs menghantui setiap saat?
Bagaimana aku harus bersikap, jika sebagai temanpun ku tak mampu...???

Pada akhirnya aku hanya bisa menjadi penyair di hadapan Tuhanku.
Tak bisa berbuat apa apa...hanya bait bait harapan untuknya agar selalu dilindungiNya..
Walau hati ini tertatih untuk kembali tegar..
mata ini tak bs setegar hati ini..ia adalah kesedihan yang tak bisa lagi terbendung.
Ku coba menepis harapan untuk tetap kuat..

Bagaimana bisa kau berkali2 meninggalkan kekecewaan ?
Tak merasakah dirimu dengan semua yang kau lakukan itu tak hanya mengecewakan?
lalu, dimana sebuah perbaikan sebagai seorang hamba?
dimana ikhitiar seorang hamba untuk selalu mengedepankan urusan orang lain dari pada kepentingan dan masalahnya sendiri??

Tuhan...bagaimana aku bisa berlari jika kakiku saja selalu terjerembab dalam setiap melangkah?
Tuhan...bagaiman aku tersenyum jika hati yang penuh nafsu ini selalu menghantui ikhlasku!
Tuhan...aku ingin saudara2ku kembali bersamaku di jalan-Mu..
Tuhan...bantu kami jauh dari segala yang menjauhkan kami padaMu..
Bantu kami...berlari meninggalkan semua yang mengahalangi tujuan kami kepadaMu...
Jikalah kami tak bisa bersama, izinkanlah kami tetap bersaudara...
Jangan biarkan kami terlena pada hati kami yang tak condong pada-Mu.
buatlah kami sadar hakikat kami hanya sebagai manusia yang hanya bisa berusaha dan belajar ikhlas dalam beramal...
yang selalu berharap pada Rahmat dan hidayah-Mu selalu dalam meraih Ridho-Mu.

Senin, 04 April 2016

lelah

Lelah...perjalanan mencari kepastian memang melelahkan.bahkan sulit hingga detik ini membuka hati lagi. Ketakutan akan sebuah kehancuran pertemanan selalu menyapaku.. Kau tau bukan betapa sedihnya diabaikan karna mrncari makna perlindungan atas nama kebaikan. Aku tak pernah berharap kembali pada satu harapan yang ingin sama-sama kita capai. Aku hanya ingin dapat kembali berkawan seperti dulu walaupun rasanya aneh. Tapi, itu lebih baik bagiku dari pada kuharus membuka diri untuk sekedar menyapa atau mengisi Dan meretakkannya kembali. Aku tak mau member I harapan pd selanjutnya ..maka lebih baik aku diam Dan tak menggubris mereka yg ingin berharap padaku. Dan kini senja tak lagi sama. Bolehkah aku khawatir? Jika kalian saja seperti itu,.bagaimana dengan yang lain. Dan aku kembali lelah..semangatku hilang untuk bergabung dengan yang lain. Aku terlalu takut memulai lagi ..

Selasa, 12 Januari 2016

Anastesikah dirimu?


Kau tau apa yang paling membuatku sebal dan mulai tak peduli?
yaitu saat aku harus kehilangan untuk kesekian kalinya, dimana tak semudah itu mengumpulkan sebuah keberanian, kesanggupan menerima resiko dan penerimaan dengan segenap rasa. Dan ketika semua itu sudah ku genggam ..harus kubuang begitu saja ,karena hanya membuat luka dan kecewa mengotori hati.
lalu, satu persatu kembali menyapa..ya hanya sekedar menyapa untuk mengetahui respon ku. sedangkan mereka bukanlah orang-orang yang tak seharokah dan sefikroh denganku... rasanya aku ingin mulai tak peduli dengan semua itu. Yang aku inginkan adalah bebas,,bebas dari semua beban pikiran ini. Karena kuharus melibatkan orang-orang yang yang ada didhidupku untuk ini. Dan aku tak ingin orang-orang yang kusayangi inkut terbebani.walau ku tau ku ingin ada yang mengikatku..aku harus tak memperdulikan perasaankuini. aku hanya bisa tersenyum lebar....dan kembali bertanya..haruskah kujatuhkan genggaman ikatan itu pada orang yang tak seharokah denganku, dengan yang tak sefikroh denganku dan...mungkin aku memang sudah menyerah???
Mencoba untuk fokus dengan semua impian yang lain...tapi,semua seolah buyar ketika kecewa itu hadir lagi,, semangatku hilang, pikiranku kacau...kau seolah racun yang menghalangi kesehatanku. Anstesimu terlalu berdosis rendah dan tak mampu lagi membuatku tenangkan diri. Semoga Allah mengampuniku dan sellau membimbingku untuk terus berjiwa besar dan ikhlas dengan skenarioNya. Semangatlaah...
Aku ingin tetap menjadi bunga yang mewarnai keindahan sekelilingnya...walau kutau, waktu takkan menunggu lama dengan warna dan indahnya.

Senin, 11 Januari 2016

Detakmu

Tiba-tiba aku terdampar ditepian waktu.
Berdetak hidup dengan menyebutkan sebuah nama, seperti meledekku saja.
Mengingatkan aku bahwa dia telah melebur, pada salah satu detikmu.
Mengingatkan aku akan sela yang membuatku kembali berjarak.
Menghantamku saat aku mencoba untuk membuatmu berjalan mundur.
Harusnya kupatahkan kedua jarummu saja!
Agar aku tak ingat akan berapa lama penantian yang harus kuulang
Agar aku tenang duduk menunggu diantara deretan angka tanpa makna,
Untuk menjemputnya…
menjemput harapan yang lama bersemayam dilubuk hati dan selalu ditepis olehmu disebuah kenyataan..
Jika udara adalah media,
aku ingin mengukir nafasku disana.
Meluapkan apapun yang aku rasa, membingkisnya dalam bentuk nama
Saat ia menghirupnya, aku harap ia akan tahu bahwa ada sebuah nyawa yang bersarang disana.
Menunggu untuk di tiupkan kembali dalam wujud nyata. Secepatnya.”
Terlalu dini untuk sakit hati.
Ada cerita yang belum siap patah lagi.
Ada malam yang terus menolak sepi
Terlalu dini untuk tersesat lagi.
Ada langkah yang lelah mencari
Ada nafas yang terengah dan menggema di sanubari
Terlalu dini untuk kehilangan .
Ada damba yang tak ingin lepas
Ada rindu…ridu yang menghujam sebuah rasa.
mendamba sebuah pertemuan yang indah dalam ikatan suci
meraih asa karena ilahi.

Sabtu, 19 Desember 2015

Bahagia itu sederhana

Hari ini aku mendapat sebuah kisah yang cukup membuat ku semakin kuat dan yakin bahwa ujian itu akan sesuai dengan kadarnya.,, dan lagi-lagi memang skenario Allah memang yang terbaik...unik dan lucu...
Siapa yang menyangka, beberapa waktu ia adalah orang yang sangat dekat denganmu dan jatuh cinta padamu, memperhatiakan dan menghawatirkanmu, tertawa dan bercanda juga bercerita bersamamu. Saat itu kau bersama sahabat yang terikat karena sehoby denganmu, yang menemanimu berbagi dan bercerita , membuat kehangatan didalam tenda, dan berkata , berteman apa adanya..iapun berteman akhirnya berteman dengannya , tau tentangmu dengan ia yang telah menaruh hati padamu. Seiring waktu berlalu, pencarian dari sebuah jawaban memang akan terus dicari, hingga ia harus pupuskan rasa itu karena merasa tidak pantas dengan orang sepertimu, orang yang terlihat jauh lebih terpandang dan ya lagi-lagi ia merendah..terlebih setelah ia tau dan mendapat kabar kau akan menikah tahun ini. hilang sudah harapan itu. Hingga perlahan, hari demi hari, ia mulai membagi cintanya untuk orang lain yang ia rasa pantas untuk mendapatkannya, karena harapan berbagi cinta hanya denganmu rasanya sudah tidak mungkin. cerita demi cerita hingga akhirnya tak berkabar sama sekali. Kita menjalani hidup dan cerita masing-masing.
Sudah hampir setengah tahun berlalu, benar -benar hilanglah rasa itu untukmu. karena ia telah menemukan seseorang yang mau menerima cintanya dengan segala yang ada padanya. Dan sayangnya perasaan wanita yang ada pada dirimu memang benar-benar ada,,ya rasa cemburu dan curiga kepada orang yang pernah memliki rasa dengan kita ternyata sudah memiliki kebahagiaan lain tanpa kita.
Ternyata....kecurigaan itu benar-benar terjawab, tepat dibulan kita pernah bersama-sama ceria dan tertawa bersama sahabatmu juga. ia melamar sahabatmu tanpa kamu ketahui. Hingga yang terdengar olehmu adalah berita pernikahan yang akan dilaksanakan esok hari. arena sahabatmu baru memberi tahunya. sehari sebelum perniakhan itu berlangsung.
lalu..apakah kau harus bersedih?
Tidak...aku sangat bahagia..bahagiaaaa sekali melihat kebahgian mereka seperti kebahagiaan kita dulu berssama. Selamat yaaaa kaliaaaan...ini adalah kebahagian walau aku pernah bersedih.pokoknya kau sangat bahagia mendengarnya. Dan ternyata kau yang sudah berencana sebaik apapun, tetap Allah lah sang pemilik skenario terbaik.Kau kembali gagal dan terlewat satu point oleh mereka yang berencana dengan matang dan fokus pada tujuan. Kau tidak menyangka kan ia dan sahabatmu ternyata berjodoh walau pada awalnya mereka hanya bagian dari kisah hidupmu. Kedekatan mereka pun blm lama...hanya 3 bulan. ia yang siap mengambil resiko untuk mendapatkan kebahagiaannya mampu merealisasikan apa yang diniatkan walau mereka dan kamu tau resikonya. Ternyata orang terdekatmu lebih bisa berani menjemput kebahagiaannya dengan resiko-resikonya. Ya itulah kebaikan..ketika itu adalah usaha maximal. insayAllah Allah akan mempertemukan. Bukan hanya niat dan rencana dimulut, tapi tak berani mengambil resiko yang sudah kita takuti bayangannya dari pada realita yang akan terjadi atas izin dan kehendakNYa.
Bahagia itu sederhana..sesederhana kau mampu menjemput kebahagiaanmu dengan keberanian, keistiqomahan dan RidhoNya dalam meraih cinta karenaNya dengan menjaga kesederhanaan dalam cintaNYa. Hingga kelak jutaan kasihlah yang kau dapat atas RidhoNya... :)