Sebuah kenyataan tiap peristiwa yang kita lalui kan terukir dan menjadi pelajaran berharga menuju proses yang Terbaik.
Sabtu, 18 Juli 2015
Jangan Biarkan Aku Jatuh Cinta
Entah butuh berapa lama untuk aku mulai jatuh hati. Hal yang sama kembali menyapa. Proses yang sekian lama aku hindari karna rasa takutku lebih besar , rasa kecewaku yg kembali terasa dihati lebih menyelimuti Dari pada rasa yakinku dengan ketatapanNya. Mungkin orang lain melihatku sebagai pribadi yang cuek,tomboy Dan ceria. Andai kalian tau itu adalah coverku sebagai wanita. Karena aku takut kalian memberi harapan sebagai laki-laki..tapi, nyatanya semua Itu tak membantuku..bersikap seperti apapun dihadapan laki2 ..wanita ttp memiliki magnet sendiri yang kadang wanita ITU juga tak mengerti. Maka, memang benar bahwa wanita itu rentan Dan bs menjadi fitnah dunia.semoga aku terlindungi dr fitnah tsb.
Aku tak butuh perhatian lebih,harta berlimpah atau sejuta kata cinta..aku hanya butuh imam yang mau membimbingku menjadi perhiasan dunia yang terbaik untuk berbekal di akhirat kelak. Walau pernah Ku berharap, namun kenyataannya cukup mengecewakan. Bahkan aku sering bercermin mungkin memang aku bknlah perhiasan itu Sekarang. Mungkin aku terlalu takut menjadi perhiasan itu..hingga Allah belum mentakdirkan. Namun kini semua alasan itu kembali luntur dengan hadirnya seseorang yang ternyata dekat sedekat bulumataku. Aku berusaha utk tdk jatuh cinta hingga kepastianlah yang kudapat..bkn sekedar ingin memiliki..tapi karena niatan yang suci..yang sungguh sungguh bisa meyakiniku dengan kesungguhan niatnya, membuktikan dihadapan ayahnya. Bkn yang ingin mencoba sebuah keberuntungannya denganku. Memangnya aku apa? Seenaknya mempermainkan perasaan dengan harapan.
Jadi, janganlah menganjakku jatuh cinta jika hanya dalam niatan saja. Bagaimana orang tuamu, bagaimana saudara2mu ,Bagaimana keyakinanmu dan bagaimana kesiapanmu utk menjadi imamku.Dan entahlah ..aku tak tau jika hal yang tak kuinginkan itu terjadi lagi padaku. Aku hanya butuh keberanian Dan pembuktian jika kau benar benar serius untuk membimbingku kejalanNya selalu dengan menjadi ImamKu dunia akhirat..itu saja.jikalah harus dikecewakan untuk sekian kalinya..biarlah men jadi kelabu DLM hidupku yang entah kapan menjadi pelangi. Karena Hujan tak selalu menghadirkan pelangi. Biarlah Allah yang menyembuhkan.
Juli 2015
#JanganBiarkanAkuJatuhCinta
Rabu, 26 Februari 2014
Ku Langsung Jatuh Cinta
Jumat, 06 Desember 2013
PERBEDAAN PENDAPAT DALAM ISLAM
(Makalah Dewan Syariah DPP WI, di Diskusi ICMI Sulsel, 30 September 2007)
Dalam tradisi ulama Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang baru, apalagi dapat dianggap tabu. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing.
Untuk bidang hukum Islam, misalnya. Kita bisa melihat kitab Al Mughni karya Imam Ibnu Qudamah. Pada terbitannya yang terakhir, kitab ini dicetak 15 jilid. Kitab ini dapat dianggap sebagai ensiklopedi berbagai pandangan dalam bidang hukum Islam dalam berbagai mazhabnya. Karena Ibnu Qudamah tidak membatasi diri pada empat mazhab yang populer saja. Tapi ia juga merekam pendapat-pendapat ulama lain yang hidup sejak masa sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in.
[1]Contoh ini berlaku pada semua disiplin ilmu Islam yang ada. Tidak terbatas pada ilmu hukum saja, seperti yang umumnya kita kenal, tapi juga pada tafsir, ulumul qur’an, syarh hadits, ulumul hadits, tauhid, usul fiqh, qawa’id fiqhiyah, maqashidus syariah, dan lain-lain.
Penguasaan terhadap perbedaan pendapat ini bahkan menjadi syarat seseorang dapat disebut sebagai mujtahid atau ahli dalam ilmu agama.
[2]Orang yang tidak memiliki wawasan tentang pandangan-pandangan ulama yang beragam beserta dalilnya masing-masing, dengan begitu, belum dapat disebut ulama yang mumpuni di bidangnya.
Sikap Toleran terhadap Perbedaan Pendapat
Yang menarik, dalam mengemukakan berbagai pendapatnya, ulama-ulama Islam, terutama yang diakui secara luas keilmuannya, mampu menunjukkan kedewasaan sikap, toleransi, dan objektivitas yang tinggi. Mereka tetap mendudukkan pendapat mereka di bawah Al Qur’an dan Hadits, tidak memaksakan pendapat, dan selalu siap menerima kebenaran dari siapa pun datangnya. Dapat dikatakan, mereka telah menganut prinsip relativitas pengetahuan manusia. Sebab, kebenaran mutlak hanya milik Allah subhanahu wata’ala. Mereka tidak pernah memposisikan pendapat mereka sebagai yang paling absah sehingga wajib untuk diikuti.
“Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar.” Demikian ungkapan yang sangat populer dari Imam Syafi’i.
Dalam kerangka yang sama, Imam Ahmad bin Hambal pernah berfatwa agar imam hendaknya membaca basmalah dengan suara dikeraskan bila memimpin shalat di Madinah. Fatwa ini bertentangan dengan mazhab Ahmad bin Hambal sendiri yang menyatakan bahwa yang dianjurkan bagi orang yang shalat adalah mengecilkan bacaan basmalahnya. Tapi fatwa tersebut dikeluarkan Ahmad demi menghormati paham ulama-ulama di Madinah, waktu itu, yang memandang sebaliknya. Sebab, menurut ulama-ulama Medinah itu, orang yang shalat, lebih utama bila ia mengeraskan bacaan basmalahnya.
[3]Khilafiyah dalam Masalah Furu’iyah
Penting untuk segera digarisbawahi bahwa perbedaan pendapat sebagaimana dipaparkan di atas adalah perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu’iyah belaka. Atau dalam istilah Umar Sulaiman al Asyqar, dirinci sebagai al khilaf al maqbul dan al khilaf as sa’igh al maqbul.
[4]Contoh-contoh untuk al khilaf al maqbul adalah perbedaan ulama mengenai bentuk manasik yang lebih utama, antara qiran, ifrad dan tamattu’; mengeraskan bacaan basmalah di dalam shalat jahriyah, jumlah takbir yang dianjurkan dalam shalat ‘ied, dan redaksi doa istiftah yang lebih afdhal. Perbedaan ulama dalam masalah-masalah tersebut tidak lebih dari perbedaan yang sifatnya variatif belaka. Sehingga kita dapat memilih yang lebih sesuai dengan keadaan dan kondisi kita masing-masing. Mengamalkan salah satu pendapat dari berbagai pendapat yang ada sama sekali tidak mengurangi nilai sahnya ibadah. Semua ulama sepakat terhadap keabsahan ibadah dengan salah satu bentuk tersebut.
[5]Adapun al khilaf as sa’igh al maqbul, ialah perbedaan pendapat yang tidak dapat dikompromikan, namun tidak keluar dari ijtihad yang prosedural sesuai dengan medodologi ilmiah yang dikenal ulama.
[6]Perbedaan pendapat tentang najisnya air yang kurang dari dua qullah bila terkena najis sedangkan tidak terjadi perubahan rasa, warna atau bau; hukum mandi jumat, hukum membaca al Fatihah bagi makmum, hukum qunut shubuh, dll. merupakan contoh-contoh kasus yang dapat dikategorikan dalam bentuk perbedaan pendapat yang kedua ini.
Muhammad bin Husain al Jizani, dalam disertasi doktornya untuk kajian Ushul Fiqh di Universitas Islam Madinah, KSA, yang mengantarnya memperoleh yudisium summa cum laude disertai pengahargaan tingkat I, menulis tentang sikap islami terhadap masalah ijtihad sebagai berikut:[7]
1. Tidak menganggap fasiq, mubtadi’ dan kafir pihak yang berselisih paham;
2. Melakukan dialog yang sehat dengan mengutamakan dalil dan argumentasi;
3. Tidak memaksakan kehendak atau paham kepada pihak lain;
4. Tidak mengklaim kebenaran mutlak berada pada pihaknya.
Namun demikian, patut ditambahkan pula bahwa kendati saling menghormati perbedaan pendapat, ulama-ulama itu tetap sepakat tentang kewajiban untuk selalu merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits.
[8]Imam Abu Hanifah menegaskan, “Bila satu hadits dalam satu permasalahan telah shahih, kandungan hadits itulah mazhabku.”
Ia juga mengungkapkan, “Tidak halal bagi siapapun untuk menganut pendapat kami bila dia tidak tahu dasar pengambilannya.”
Imam Malik tidak kalah tegasnya. “Aku ini hanyalah manusia biasa,” tukas Malik, “yang bisa benar dan bisa salah. Maka pertimbangkanlah pendapat-pendapatku. Pendapat yang sejalan dengan Al Qur’an dan Sunnah, ambillah. Sedangkan yang tidak sejalan dengan Al Qur’an dan Sunnah, tinggalkan.”
“Setiap masalah yang terdapat Hadits Nabi yang shahih di dalamnya, sesuai dengan pendapat ulama Hadits; yang berlawanan dengan pendapatku, aku ruju’ (kepada Hadits dan meninggalkan pendapatku), baik semasa hidup atau matiku.” Demikian Imam Syafi’i menyatakan sikapnya.
[9]Khilafiyah yang Tercela
Di samping khilafiyah dalam masalah furu’iyah di atas, terdapat pula perbedaan pendapat berikutnya. Perbedaan pendapat ini, masih meminjam istilah al Asyqar, yaitu al khilaf al madzmum (perbedaan pendapat/khilafiyah yang tercela). Yang dimaksud dengan perbedaan pendapat yang tercela seperti pendapat-pendapat atau paham yang berseberangan dengan pokok-pokok ajaran agama.
[10] (biasa disebut tsawabit atau ma’lum minad diin bid dharurah atau atau qawathi’ud diin atau ushulud diin).
Paham-paham serta gagasan yang berseberangan dengan pokok-pokok ajaran agama ini tidak jarang dilontarkan secara provokatif dan terkesan menggungat. Gugatan terhadap pokok-pokok ajaran agama ini, secara menyesatkan, biasanya berlindung di bawah slogan pembaruan Islam atau bahkan slogan ijtihad.
[11] Walaupun sebenarnya inti dari slogan-slogan itu tidak lebih dari penisbian terhadap segala bentuk kemapanan. Termasuk terhadap ajaran- ajaran agama yang telah tetap serta sangat jelas landasannya, baik itu dari Al Qur’an atau Hadits yang sahih.
Gugatan kepada pokok ajaran agama yang mapan ini umumnya disebut sebagai paham yang nyeleneh. Sebab ia menyelisihi pemahaman yang mendasar dan dianut secara umum oleh umat. Terkait dengan paham nyeleneh ini, menarik untuk menyimak perkataan Ali berikut. Imam Ali berkata, “Akan muncul pada akhir zaman sekelompok manusia yang melontarkan pendapat yang tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam. Mereka mengajak orang lain kepada pendapatnya. Siapa yang mendapati mereka hendaknya menentang, karena penentangan itu akan bernilai pahala di sisi Allah.” (Riwayat al Harawi)
[12]Pernyataan Imam Ali tidak berlebihan. Khalifah sebelumnya, Imam Umar bin Khattab, bahkan telah mengambil tindakan tegas terhadap bentuk penyimpangan semacam itu.
Sulaiman bin Yasar bertutur tentang seorang laki-laki yang bernama Shabigh yang datang ke Madinah, ibu kota negara waktu itu. Laki–laki ini gemar melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berisi keraguan terhadap Al Qur’an di masyarakat. Umar kemudian menghukum Shabigh dengan mendera kepalanya dengan pelepah korma hingga mencucurkan darah dan Shabigh bertobat. (Riwayat ad Darimi)
[13]Sikap terhadap Khilafiyah yang Tercela
Al Khilaf al Madzmum sangat berbeda dengan dua perbedaan pendapat yang sebelumnya. Bila pada khilafiyah dalam masalah furu’ tadi kita menyaksikan toleransi dan penghargaan yang tinggi ulama terhadap pihak yang berbeda pandangan; sebaliknya di sini. Ulama-ulama Islam justru menunjukkan sikap tegas dan tanpa kompromi.
Yahya bin Ya’mar, seorang tabi’in, bercerita bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Umar, seorang ulama besar dari kalangan sahabat, tentang sekte yang mengingkari adanya takdir Allah, dan bahwa manusia memiliki kehendak mutlak terhadap perbuatannya. Jawab Ibnu Umar, “Bila bertemu orang-orang itu sampaikan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka dan mereka pun hendaknya melepaskan diri dari Ibnu Umar. Demi Allah, bila mereka bersedekah dengan emas sebanyak tanah bukit Uhud, Allah tidak akan menerima amalan mereka hingga mereka tobat.” (HR. Muslim)
[14]Ini adalah contoh sikap ulama sahabat, yang diperankan oleh Ibnu Umar, terhadap orang-orang yang seenaknya berbicara tentang rukun iman, menambah atau mengurangi.
Tidak jauh berbeda dengan itu adalah upaya mengkaji akidah Islam dengan mengandalkan metode mantiq atau filsafat, atau lebih dikenal dengan ilmu kalam. Imam Syafi’i, yang tadi populer dengan toleransinya terhadap masalah ijtihad, berkata, “Mazhabku terhadap pengikut ilmu kalam adalah dihukum dengan pukulan cambuk di kepalanya dan diusir.”[15]Al khilaf al madzmum ini, dengan demikian, tidak dihadapi dengan sikap yang toleran. Tapi dengan sikap tegas. Sebab, persoalan-persoalan akidah dan ushulud diin mewakili esensi dan pokok dari ajaran Islam. Persoalan-persoalan tersebut merupakan bagian yang demikian sensitif, krusial serta khas ajaran Islam. Sehingga penodaan terhadap esensi tersebut sama dengan menggugat eksistensi Islam itu sendiri.
[16]Keyakinan atas kebenaran mutlak agama Islam dengan kepercayaan terhadap kesesatan agama-agama lain, adalah ajaran yang sangat fundamental dalam Islam.
[17] Sebagaimana juga kesucian Al Qur’an dan kesempurnaannya
[18]serta kedudukan ijma’ (konsensus) ulama sebagai salah satu sumber otentik ajaran Islam.
[19] Bila hal-hal yang mendasar seperti ini dipermasalahkan, apalagi yang tersisa dari ajaran Islam?
Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Lahirnya Paham-paham Nyeleneh
Beberapa faktor penyebab timbulnya paham-paham nyeleneh ini, antara lain:
[20]1.Rendahnya pemahaman agama. Hal ini, misalnya, dapat lahir dari penguasaan bahasa Arab yang minim. Akibat langsungnya, akses terhadap Al Qur’an, Hadits serta literatur-literatur induk ajaran Islam otomatis jadi terbatas pula.
Sayangnya, rendahnya pemahaman agama ini tidak mampu menekan semangat tinggi sebagian orang untuk berijtihad. Padahal ijtihad memerlukan ulama dengan kualifikasi dan tingkat kompetensi serta kapasitas keilmuan yang tinggi. Karena tidak memiliki itu semua, akhirnya yang diandalkan adalah sekadar lontaran-lontaran pemikiran namun tanpa landasan metodologi yang jelas.
[21]Rendahnya kualitas pemahaman agama bisa juga akibat dari rendahnya mutu pendidikan agama secara umum. Salah satu pemicunya, input sekolah-sekolah agama yang biasanya “sisa” calon siswa yang tidak mampu bersaing memperebutkan kursi sekolah favorit. Bukan rahasia lagi bila sekolah-sekolah agama masih sering dianggap sekadar pelarian bagi mereka yang tidak lulus di sekolah-sekolah unggulan.
[22]2.Memperturutkan hawa nafsu, baik itu karena mengejar popularitas, materi, atau kepentingan-kepentingan sesaat lainnya. Al Qur’an menggambarkan sikap manusia pemuja nafsu sebagai:
“Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. 45: 23)
Fenomena memperturutkan hawa nafsu ini misalnya dapat dilihat dari penolakan secara serampangan terhadap Hadits dengan klaim bertentangan dengan Al Qur’an.
[23] Selanjutnya menjadikan sejarah sebagai sumber pemahaman agama. Padahal sejarah bukanlah agama. Sejarah bukan pula “guru agama” (adillah syar’iyyah mu’tabarah).
Bila hendak objektif, justru bagian sejarah yang paling otentik adalah Hadits. Sebab, Hadits adalah rekaman peristiwa perkataan dan perbuatan Nabi yang telah melalui proses penyaringan ketat, lewat pengkajian sanad (rantai periwayat Hadits) dan matan (redaksi) sekaligus. Metode “saring” ini, sama sekali tidak dikenal dalam tradisi keilmuan manapun di luar Islam.
[24]3. Konflik dan permusuhan. Kebencian atau sikap tidak senang kepada pihak lain kerap melahirkan subjektivitas yang berlebihan. Pada gilirannya, sikap ini akan berujung pada sikap ujub dan akhirnya penolakan terhadap kebenaran.
Allah berfirman (QS. Ali Imran: 19), artinya: “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
4.Mengabaikan manhaj nabawi dalam mempelajari agama dengan mengandalkan pemikiran-pemikiran sesaat serta analisis yang prematur. Metodologi ilmiah yang diperkenalkan ulama, seperti musthalahul hadits, balaghah, ushul fiqh, dsj. sebenarnya adalah metode standar yang disarikan dari ajaran Islam itu sendiri untuk menjadi parameter dalam mengukur tingkat kesahihan atau keilmiahan suatu pendapat.
Mengabaikan metodologi ini sama dengan menabrak prosedur-prosedur standar dalam melakukan ijtihad. Upaya seperti ini lebih tepat disebut “mengacak-acak” agama (meminjam istilah KH. M. Amin Jamaluddin, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam, Jakarta) daripada pembaruan, sebuah istilah yang sangat sering diklaim secara sepihak.Wallahu ta’ala a’lam.(Pemakalah: Ketua Dewan Syariah DPP WI H.Said.Abd.Shamad, Lc, Pemateri lainnya: Prof.Ahmad M.Sewang dan Prof.Dr.M.Qasim Matar)
[1] Lihat, misalnya: Ibn Qudamah (w. 620 H.), al Mughni, Juz VI (Kairo: Hajr, 1992), h. 364-367, 423, 609, dll.
[2]Abdul Karim bin Ali an Namlah, al Jami’ li Masa’il Ushul al Fiqh (Riyadh: Maktabah ar Rusyd, 2000), h. 399-400.
[3]Lihat: Ibn Taimiyah (w. 728 H.), Majmu’ ar Rasa’il al Muniriyah, Juz I (Beirut: Dar Ihya’ al Turats al ‘Arabi, 1343 H.), h. 124.
[4]Umar Sulaiman al Asyqar, Nazharat fii Ushul al-Fiqh (Urdun: Dar an Nafa’is, 1999), h. 385-403.
[5] Ibnu Taimiyah, h. 123.
[6]Tentang ijtihad, pengertian, hukum, syarat al mujtahad fiih, kriteria mujtahid; lihat: Muhammad bin Husain al Jizani, Ma’alim Ushul al Fiqh (Jeddah: Dar Ibn al Jauzi, 1998), h. 470-486.
[7] Ibid., h. 492-493. Bandingkan pula dengan: Khalid bin Utsman al Sabt, al Amr bi al Ma’ruf wa an Nahy ‘an al Mungkar (London: al Muntada al Islami, 1995), h. 324-338.
[8]Mani’ bin Hammad al Juhani, al Mausu’ah fii al Adyan wa al Madzahib wa al Ahzab al Mu’ashirah, Juz I (Riyadh: WAMY, 1418 H.), h. 112.
[9]Lihat: Abdul Hamid al Atsari, al Wajiz fii ‘Aqidah as Salaf as Shalih (Riyadh: Dar ar Rayah, 1422), h. 161-162.
[10]Lihat: Umar Sulaiman al Asyqar, h. 387-390.
[11] Tidak sedikit kalangan yang menilai bahwa gerakan-gerakan pebaruan pemikiran yang tumbuh dalam basis-basis pertahanan budaya Islam sebenarnya adalah bagian dari skenario besar gerakan sekularisasi di dunia Muslim. Lihat: M. Anis Matta, Dari Gerakan ke Negara ( Jakarta: Fitrah Rabbani, 2006), h. 68-69.
[12]Abdullah bin Muhammad al Harawi (w. 481 H.), Dzamm al Kalam wa Ahlih, Juz IV (Madinah Munawwarah: Maktabah al ‘Ulum wa al Hikam, 1998), h. 246-247.
[13] Abdullan bin Abdurrahman ad Darimi (w. 255 H.), Sunan ad Darimi, Juz I (Damaskus: Dar al Qalam, 1996), h. 58.
[14] Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Juz I (Beirut: Dar al Ma’rifah, 1994), h. 103-107.
[15]Az Dzahabi menulis, “Fatwa ini diriwayatkan dari Syafi’i mendekati derajat mutawatir.” Lihat: Muhammad bin Ahmad az Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala, Juz X (Beirut: Mu’assasah ar Risalah, 2001), h. 29.
[16]Dalam kacamata ini, kita dapat memahami dengan baik fatwa MUI tanggal 29 Juli 2005 yang menyatakan paham pluralisme agama bertentangan dengan Islam dan haram umat Islam memeluk paham ini. Juga aliran Ahmadiyah yang divonis umat sebagai aliran di luar Islam sebagaimana keputusan Majma’ al Fiqh al Islami OKI (1985), Majma’ al Fiqh al Islami Liga Muslim Dunia (1975), Majelis Tarjih Muhammadiyah (1934), Syuriah PBNU (1995), dan Munas MUI (2005). Lihat: Adian Husaini, Pluralisme Agama: Parasit bagi Agama-agama (Pandangan Katolik, Protestan, Hindu dan Islam), (Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, 2006), h. 46-59.
[17]Al Qur’an jelas menegaskan, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)
Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Zat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun, baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat (manusia) ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)
[18] Lihat: QS. 15: 9.
[19]Lihat: QS. 4: 115.
[20]Umar Sulaiman al Asyqar, ibid.
[21] Umar bin Khattab berkata, “Hati-hatilah terhadap manusia yang hanya mengandalkan logika semata (dalam masalah agama). Mereka adalah musuh Sunnah. Mereka tidak berdaya menghapal hadits-hadits, makanya mereka cuma memakai logika. Mereka sesat dan menyesatkan.” Dikutip oleh Ibn Qudamah, Raudhah an Nazhir wa Junnah al Munazhir (Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyah, 1994), h. 149
[22] Faktor ini sedikit banyaknya dapat menjelaskan kenapa paham-paham nyeleneh tumbuh lebih “subur” di perguruan-perguruan tinggi yang notabene membawa label Islam daripada perguruan-perguruan tinggi “umum”. Buktinya, dari Fak. Syariah IAIN Semarang terbit buku Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum
Homoseksual (Semarang: Elsa, 2005), dari UIN Yogyakarta lahir tesis master berjudul Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan oleh Aksin Wijaya (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), dan dari UIN (dulu IAIN) Makassar lahir Rekonstruksi Sejarah Al Qur’an oleh Taufik Adnan Amal, yang isinya meragukan keabsahan Mushaf Utsmani (Yogyakarta: FKBA, 2001). Lebih jauh mengenai liberalisasi Islam di Indonesia, baca: Adian Husaini, Liberalisasi Islam di Indonesia: Fakta dan Data (Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, 2006).
[23]Lebih menyedihkan lagi bila klaim ini dilontarkan oleh orang yang tidak hapal Al Qur’an.
[24] Lihat: Mahmud at Thahhan, Taisir Musthalah al Hadits (Riyadh: Maktabah al Ma’arif, 1987), h. 181. Bandingkan dengan: Muhammad Musthafa al A’zhami, Dirasat fii al Hadits an Nabawi wa Tarikh Tadwinih, Juz II (Beirut: al Maktab al Islami, 1992), h. 391
NB: Bantahan Tulisan Prof.Dr.Qasim Matar pada Kolom Jendela Langit Harian Fajar, dimuat di Harian Fajar
[1] Diantaranya Quthb Ash-Shufiyah Asy-Sya’rani dalam kitabnya “Mizan”.
[2] Lihat pembahasan yang bagus tentang kaidah ini dalam Kitab Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, karya Ibnu Hazm V/68, dan juga Kitab Jami’ Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi, karya Ibnu Abdil Barr : Bab Dzikri Ad-Dalil fi Aqwal As-Salaf ‘ala Anna Al-Ikhtilaf Khatha’ wa Shawab.
Senin, 25 November 2013
I try and be understanding
Sebelumnya pintu itu tertutup untuk semua, karena tak yakin dengan hal itu. Kemudian suatu hari pintu itu berhasil terbuka untuk menerima sebuah niat baik yang datang karena kebaikan dan kesungguhan hati. Namun ia pergi dan hanya sampai di ruang tengah itu. Walau saat itu mulai berusaha membagi kisah dengan terbukanya pintu itu, mulailah merasakan sebuah rasa yang amat berat di hati, sakit dan sesak ketika melihat bersama yang lain,,atau merasa terabaikan ketika tak satupun respon baik terhadap diri..ingin terus menghabiskan sisa waktu bersama. Ternyata semua itu berakhir di ruang tengah itu dan menyisakan kenangan yang cukup dalam dan membuat pintu itu semakin terkunci rapat. Membuat si pemilik mulai ragu kembali untuk membuka pintu itu, kecewa dan sempat tak ingin melihat keadaan luar lewat jendelanya. Hingga ia mampu Membenahi serpihan yang pecah didalamnya dan menenangkan diri untuk berusaha merenovasinya.
Dan Saat pintu itu sedikit terbuka untuk meyakini si pemilik bahwa diluar pintu itu ada sesuatu yang indah dan lebih baik yang takkan membuat serpihan didalamnya. Ternyata ada yang datang kembali untuk masuk dan mengenali isi dibalik pintu itu , ia berusaha menerima sekuat hati dengan yang terjadi didepan matanya hari itu. Berusaha menutup diri dan enggan tersentuh kembali. Tapi sesaat ia kembali melihat dibalik jendelanya "mungkin hal yang indah dan lebih baik itu datang dari tamu yang satu ini"..maka ia kumpulkan segenap keberanian dan kekebalan hati menghadapi yang akan terjadi dengan menerima niat baik yang datang padanya itu kembali dengan harapan lebih baik dan takkan meninggalkan serpihan didalamnya. Namun perlahan ia mulai menjauh entah apa yang membuatnya perlahan menghindari pintu itu disaat si pemilik mulai nyaman, mulai merasakan kebanggaan kembali, mulai tersenyum kembali dengan semua kekurangan si dia yang telah masuk kedalam seluruh ruang dan membenahi ruang tengah itu..si pemilikpun tak mengerti mengapa ia melakukan itu padanya..sipemilik mencoba menerima dan mencoba mengerti bahwa semua yang terjadi memang kehendak sang Maha pemilik segalanya walau harapannya belum pernah putus hingga detik ini. ia hanya bisa berharap setiap yang datang janganlah meninggalkan jejak langkah yang mendalam atau membuat serpihan lagi didalamnya. Karena ketika kau laukan itu kau tidak tau bahwa ruang itu sangatlah ia jaga untuk yang benar -benar tulus dengan niatnya dan tegas dengan harapannya..bukan sekedar bermain-main didalamnya dan meninggalkan jejak yang tak berarti apa-apa. Coz I try and be understanding. Maka jadilah yang terbaik untuk si pemilik ruang ini jika memang niat yang tulus itu benar benar ingin diwujudkan bersama.
kadang kita ingin tapi menolak diri untuk terus maju
Kadang pikiran lebih menguasai dari pada keyakinan hati
Tapi satu yang kita lupa...kita mencoba untuk berhasil..bukan untuk gagal
Kita berani untuk dapat merasakan bukan hanya berpikir
Kita ingin bersatu bukan untuk nafsu tapi untuk niatan suci
Maka mengapa tidak kita mencoba agar kita mengerti..
karena semua adalah skenario-Nya yang kita tak tau dimana letak keindahan yang dipersiapkan-Nya untuk kita setiap waktu..hari ini, esok dan seterusnya hingga saat nafas ini terhenti dan menemui fitrhanya.
Selasa, 19 November 2013
My Favourite
Menulis itu bukan hanya sekedar membagi secercah kisah...menumpahkan apa yang ada di otak atau sekedar iseng...tapi menulis itu suatu karya dan ketika kita menuangkannya dengan penuh perasaan kita berharap ada kebermanfaatan untuk orang lain di dalamnya.. Mungkin orang yang membaca bisa saja suka, tidak suka, biasa saja, atau bahkan bisa juga meremehkan...entah karena hanya berisi curhatan atau berisi sesuatu yang tidak penting...tapi buat penulis, ketika ia mampu merangkai kata atas semua yang dirasakan...itu adalah bagian kepuasan dalam mengarahkan emosioanal diri.
Membahas tentang menulis banyak moment-moment inspiring yang pernah saya rasakan dan bisa kita nikamtin sambil menenangkan pikiran...seperti :
1. Jalanan sekitar Monas yang penuh Pepohonan dan lampu Kota di petang hingga malam hari.
Buat saya, jalanan itu semua menginspirasi, karena jalanan tempatnya orang berjalan
menjalani kehidupan dari memulai atau ketika akan mengakhiri aktifitas.Tapi entah
mengapa berjalan malam hari disekitar jalanan monas itu mengundang ketenangan dan
kebersyukuran tersendiri. Tenang dan Indah. Melukiskan Gambaran ditengah hirik pikuk
kota, masih ada pepohonan yang rindang dan lampu kota tersenyum menyapa diri.
2. FlyOver Cempaka Putih
Hemmh,,,tempat yang satu ini unik apalagi di malam hari, indah dan keren...Lampu-lampu
kota sekitar gedung-gedung pencakar langit sedikit menginspirasi untuk berfikir
sejenak bahwa kita ini semakin lama semakin kerdil dihadapan Tuhan kita. Semakin hari
semakin banyak gedung bertebaran berlomba-lomba menjulang ke langit agar terlihat
mewah, megah menampakan kesuksesan orang-orang didalamnya. Tapi apakah mereka benar
benar sukses dunia dan akhirat atau hanya mengejar dunia saja. Dan yang menjadi
pertanyaan adalah dari kita sudah bisa berfikir tentang arti kesuksesan.. Apa yang
sudah kita perbuat untuk kesuksesan diri, keluarga dan orang-orang sekitar kita.
3. Atap gedung atau gedung yang bisa melihat kota dari atas
4. Danau
5. Taman bermain anak-anak
6. Kamar
Ruang privasi kita yang satu ini tempat yang menginspirasi semua aktifitas kita dari mulai bangun mpe mau tidur
lagijadi tempat kita berfikir "Mau ngapain kita hari ini" dan sebelum melelapkan mata "udah ngapain aja kita hari
ini.
itu beberapa tempat yang bisa menginspirasi pikiran untuk bisa menuangkan tulisan buatku...:)
Ridho dan di Ridhoi-Nya
Sebuah keniscayaan ketika semua yang terjadi pada kita bukanlah sekedar cerita klasik tuk masa depan...didalamnya begitu banyak peristiwa memetik hikmah....bagi yang beruntung mendapatkannya ialah pemiliknya.
Ketika melihat sekeliling kita, orang-orang tercinta, terdekat bahkan terjauh sekalipun..mereka mempunyai kelebihan yang luar biasa hebat, ketika lebih banyak melihat sisi positif dari kelebihan orang lain, begitu menginspirasi untuk kita lakukan juga pada hidup kita...tak lain tak bukan tujuannya adalah menjadi insan yang lebih bermanfaat dan lebih baik lagi. Mungkin tulisan ini tak ada pengaruhnya tapi setidaknya dengan tulisan ini ku-mampu menginspirasi diri sendiri untuk terus berusaha menggali potensi agar bisa bermanfaat untuk orang lain...begitu sulitnya untuk menjadi bermanfaat untuk orang lain karena mungkin kita bukan siapa-siapa yang tak punya apa-apa...tapi memiliki kemauan untuk terus belajar...yah ku belajar dari mereka semua, begitu indah dan tentramnya hati ini ketika melihat kelebihan yang dimiliki orang lain jika kita ridho dengan semua yang terjadi pada diri kita , karena ketika kita ridho dengan yang terjadi dengan kita, kitapun akan ridho dengan kehebatan yang ada pada orang lain sehingga menjadikan kita menjadi insan yang senantiasa bersyukur ....
bersyukur masih bisa melajar dari orang lain sehingga kita bisa turut menikmati kebahagiaan atas kesuksesan orang lain
bersyukur masih bisa tersenyum dengan kebahagiaan orang lain
Dan membuat kita Bersabar karena Allah masih ingin kita terus belajar dan tidak sombong dengan yang baru kita miliki
Karena yang kita cari adalah diri ini ridho dengan semua skenario Allah karena kita sebagai makhluk ciptaanNya yang ingin di ridhoi-Nya..(^__^)
Seandainya dunia ini penuh dengan orang-orang yang ridho dan ingin diridhoi-Nya...indah banget kali ya...
Tapi Allah akan terus menguji hamba-Nya hingga hamba-Nya mampu dan layak untuk kembali kesisi-Nya dan ditempatkan di tempat yang layak di surga-Nya...subhanallaah...(^__^)...(^__^)...(^__^)
Senin, 16 September 2013
Life start Here
Ga banyak dari mereka disekeliling kita yang tau banget tentang kita kecuali ia dan Sang Maha mengetahui. Kadang rasa nyaman itu ketika kita menjadi diri sendiri dengan semua yang terjadi pada diri tanpa ada campur tangan orang lain walaupun dengan ia yang sangat dekat dengan kita sekalipun. Mereka nyaman buat kita ketika kita mempunyai kebahagiaan buat mereka. Tapi soal kesedihan berharap itu hanyalah ujian hidup yang sedang lewat didepan diri dan mencoba untuk diselesaikan sendiri. Tak selalu seperti itu bisa dikatakan mandiri atau tegar, sebenarnya ia rapuh bahkan sangat rapuh tapi tidak untuk didepan orang lain.
**********
Ketika orang sibuk begitu senang dengan semua yang diharapkan itu tercapai, senyuman riang dan tatapan optimis begitu melekat di pandangan.
Ketika semua orang bergembira atas yang terjadi adalah sebuah anugerah terindah, senyuman kebahagiaan melingkar di rona wajah mereka.
Dan ketika orang sibuk mengejar apa yang diharapkan untuk segera tercapai, ada usaha untuk melekatkan pandangan optimis untuk terus ada didepan mata.
Dan ketika seseorang bersedih atas yang terjadi adalah sebuah ujian hidup, sebuah senyuman harus terus menyapa disetiap rona wajah yang melihatnya.
Mungkin kau harus merasakan sedih hari ini untuk merasakan kebahagiaan esok..
Mungkin kau harus terus berusaha tersenyum hari ini,agar kau dapat memberikan senyuman ketulusan untuk orang lain esok..
Mungkin kau harus merasakan beban berat hari ini, agar senyuman dan beban ringan menyapamu esok...
Ya.. Hidup tanpa beban adalah meraih senyuman ketulusan yang senantiasa kau selalu hadirkan untuk menyapa kebahagian yang mengiringi keoptimisan untuk meraih apa yang ingin dicapai dalam do'a dan harapan hidup ini..
karena hidup bukan untuk sekedar hidup..
dan kehidupan yang berjalan disetiap harinya pastilah berbeda..
selama kau hadapi dengan senyuman dan keoptimisan bahwa semua kan tercapai pada waktu yang indah dan atas izinNya.
********La Tahzan********
*****Life Start Here*****
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)



